Header Ads






3 Cara Selamat dari Berita Bohong

MASALAH berita bohong telah menjelma begitu menakutkan bagi masyarakat modern, tidak saja di Indonesia, tetapi juga dunia. Beragam ide untuk membentuk regulasi dalam mengatasi hal ini telah didiskusikan secara serius oleh banyak pihak, termasuk pemerintah.
Tetapi, mengapa berita bohong menjelma menjadi sangat menakutkan belakangan ini?
Tidak lain karena sekarang adalah masa dimana setiap manusia bisa ‘berbicara’ dalam beragam wujud, terutama rangkaian aksara lewat apa yang kita kenal dengan istilah media sosial. Meskipun sejatinya hoax tidak melulu hadir melalui media sosial, bisa juga melalui media massa.
Di saat yang sama, kepentingan-kepentingan tertentu telah menjadikan upaya massif menggiring opini publik lewat media sosial yang tentu saja memancing munculnya ‘perang’ opini di media sosial. Karena begitu pentingnya masalah ini, Dahnil Anzar Simanjuntak sampai berulang kali menegaskan melalui akun twitternya @Dahnilanzar agar kawula muda negeri ini berhenti memproduksi dan menjadi ‘tuyul’ di twitter yang mendapatkan nafkah dengan cara menebar hoax, caci-maki dan stigmatisasi.
Lantas, bagaimana agar kita selamat dari sebaran berita bohong alias hoax?
Pertama, tabayyun
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Di dalam ayat tersebut ada dua kata kunci, pertama berita. Kemudian, kedua fasiq. Berita dimaksud tentu saja memiliki nilai urgensi dalam sisi kehidupan umat manusia. Dan fasiq menunjukkan bahwa berita itu disampaikan oleh orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah alias telah bermaksiat. Jika demikian, langkah yang mesti diambil ialah tabayyun alias telitilah lebih dulu.
Terhadap kata “tabayyun” ini Ath-Thabari memahaminya dengan “Endapkanlah dulu sampai kalian mengetahui kebenrannya, jangan terburu-buru menerimanya…”
Dengan demikian, kita akan selamat dari bertindak bodoh, “bijahalah” yang tentu saja dampaknya akan sangat buruk dikemudian hari. Dan, seperti sekarang, berita bohong sangat mengkhawatirkan kehidupan umat manusia sampai pada tingkat keamanan dan ketertiban umum.
Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam komunikasi verbal maupun tulisan melalui media sosial, sikap tabayyun harus senantiasa kita utamakan, sebelum mengambil kesimpulan apalagi tindakan. Dengan demikian, salah paham, perselisihan dan pertengkaran, bisa kita jauhkan dalam kehidupan, sehingga rahmat Allah senantiasa melingkupi kehidupan kita.
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.” (QS. An-Nur [24]: 14).
Kedua, menghidupkan nalar
Bernalar mungkin biasa kita dengar. Tapi apakah sudah biasa dilakukan, ini mungkin yang penting untuk kembali dihidupkan.
Bernalar adalah proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang dapat bersifat ilmiah dan tidak ilmiah.
Lebih jauh ditegaskan, bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindarkan kekeliruan.
Dan, bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusia bersikap objektif, tegas, dan berani; suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi.
Dengan demikian, menghidupkan nalar, di antaranya merupakan langkah lanjutan dari tradisi tabayyun sebagaimana langkah pertama dalam bahasan ini yang kemudian segala macam berita yang masuk kita validasi secara nalar dan dalam konteks ajaran Islam tentu harus merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah serta ulama.
Langkah sederhananya, setiap informasi atau berita yang masuk ditimbang baik-baik, mulai dari asal-usul, kebenaran, manfaat dan maslahat. Jika memang sudah dapat diyakini info itu benar, penting, dan bermanfaat, menyebarluaskannya tentu suatu kebaikan. Tetapi, jika tidak, sebaiknya tidak melakukan apapun, apalagi men-share ke orang lain yang bisa jadi menimbulkan kemudharatan yang tidak disangka.
Ketiga, jauhi akun anonim
Terakhir, agar selamat dari berita bohong, abaikan akun-akun anonim di media sosial, terutama di twitter yang mana akun anonim punya kebiasaan berkata-kata negatif secara serampangan. Hal ini mungkin terjadi karena mereka memang menggunakan akun bukan asli, sehingga merasa aman dari diketahui orang lain.
Sebaliknya, rujuklah akun-akun yang normal, jelas, bisa ditemui dan diambil ilmu dan manfaatnya. Jika butuh info penting terupdate soal apapun, rujuklah mereka yang bisa kita jamin komitmennya terhadap kebenaran dan kejujuran serta keadilan.
Dengan kata lain, ternyata pesan orang tua terdahulu agar kita berupaya mencari teman orang-orang yang sholeh ‘wong kang sholeh kumpulono’ masih harus menjadi perhatian, sebab tidak saja dibutuhkan dalam interaksi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.*
Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar
Posting Komentar