Header Ads

ORANG SIAK DEMAM TANJAK ?, MOH KITO CAGHI TAU ASAL USULNYO ENCIK DAN PUAN

Salah satu ciri khas pakaian para laki-laki di rantau Melayu adalah penggunaan tanjak atau tengkolok yang biasa digunakan di bagian kepala. Meski bentuknya beragam dan beraneka macam, namun seluruh lelaki kaum Melayu hampir menggunakan tanjak ini pada masa dahulu. Sekarang, tanjak dan tengkolok biasanya digunakan dalam acara perhelatan dan adat seperti di acara-acara pernikahan, pentabalan, peresmian dan acara-acara yang menggunakan adat melayu lainnya.
Bagaimana sejarah asal mula pemakaian tanjak dan tengkolok ini ? Mari kita simak bersama-sama.

Menurut sebuah perspektif orang-orang tua dahulu, konon, orang-orang Melayu Sriwijayalah yang pertama kali menggunakan tanjak dan tengkolok ini dalam keseharian mereka. Ketika sekitar tahun 750 Masehi, Sang Jaya Bangsa atau Sang Rama Dhamjaya – Maharaja Sriwijaya yang berpusat di Palembang (Sumatera selatan) menyerang kerajaan Langkasuka yang berpusat di semenanjung Malaya sekarang yang pada waktu itu berada di bawah pemerintahan Raja Maha Bangsa. Hingga pada sekitar tahun 775 Masehi, Sriwijaya berhasil menaklukkan Langkasuka dan seluruh tanah jajahannya.

Dari sini, pemakaian tanjak dan tengkolok pun diperkenalkan di wilayah semenanjung. Meski demikian, pengaruh budaya Melayu Langkasuka seperti kecopong atau ketopong tetap dominan. Di semenanjung sendiri, penggunaan tengkolok, tanjak dan destar secara meluas diyakini berawal ketika Seri Teri Buana ditabalkan sebagai pemerintah bagi tiga buah kerajaan, yaitu: Sriwijaya, Bintan dan Singapura Tua. Dari cara pandang geografis, Kepulauan Bintan dan Kepulauan Singapura adalah sebahagian daripada Semenanjung Tanah Melayu. Ini bermakna, kepopuleran tengkolok, tanjak dan destar berawal dari arah selatan menuju ke utara Semenanjung.

Di era-era berikutnya, setelah tersebarnya agama Islam, Sultan-sultan Melaka dan Johor-Riau-Lingga-Pahang telah menabalkan putera-putera mereka sebagai Raja atau sultan di negeri Perak, Jeram (Selangor), Johor, Terengganu dan Pahang. Ada juga di kalangan para petinggi-petingi Melaka dan Johor-Riau-Lingga-Pahang yang dilantik sebagai wakil raja di wilayah jajahan seperti Kelang (Selangor) dan Muar (Johor).

Sultan Mahmud Syah (Kedah) telah pergi ke Melaka untuk bertemu dengan Sultan Mahmud Syah (Melaka) demi memohon penobatan. Dari sinilah bermulanya sejarah tengkolok, tanjak dan destar di negeri Kedah.

Sejarah tengkolok, tanjak dan destar di negeri Kelantan berawal ketika Sultan Melaka menaklukkan negeri Serendah (Seri Indah) Sekebun Bunga di bawah pemerintahan Sultan Gombak.

Dari Kelantan, pemakaian tengkolok, tanjak dan destar masuk ke Patani (bagian selatan Thailand) ketika Patani diperintah oleh anak-anak raja dari dinasti Kelantan I dan dinasti Kelantan II.

Pada zaman Kerajaan Persekutuan Patani Besar, penggunaaan tengkolok, tanjak dan destar telah berkembang ke negeri Singgora (Songkhla, Phatthalung dan Satun) serta Ligor (Nakhon Si Thammarat).

Di bawah pengaruh imperium Kedah juga, penggunaaan tengkolok, tanjak dan destar telah berkembang ke Sendawa (Sadao), Setul (Satun), Terang (Trang), Ayer Kelubi (Krabi), Kuala Punga (Phang Nga), Pulau Bukit (Koh Phuket) dan Rundung (Ranong) di selatan Thailand serta Tenang Sari (Tenasserim) di selatan Myanmar.

Di Sumatera khususnya Riau sendiri bisa dikatakan bahwa penggunaan tanjak ini berawal dari berdirinya kerajaan-kerajaan melayu yang ada di Sumatera, biasanya tanjak digunakan pada acara-acara resmi adat, seperti : acara pernikahan, acara peresmian, acara pelantikan adat dan lain sebagainya. 

Berikut Admin paparkan jenis-jenis lipatan tanjak yang biasa digunakan oleh para lelaki melayu :





































Jenis-jenis tanjak yang Admin paparkan di atas merupakan sebagian kecil dari jenis-jenis tanjak yang ada, biasanya jenis tanjak yang digunakan menyesuaikan dari daerah adat melayu setempat. 
Wallahualam[].
sumber : https://bedenai.blogspot.sg
Poskan Komentar